Hari Ibu 2018: Ada Kisah Menyedihkan di Balik Sejarah Hari Ibu yang Kita Rayakan Sekarang


Grid.ID - Semua orang sudah tahu akan peringatan ini setiap tahunnya namun tak banyak yang tahu akan sejarah hari Ibu yang selalu kita rayakan sekarang.

Sejarah hari ibu di seluruh dunia rupanya berawal dari sebuah kisah sedih pada masa perang dunia.

Sejarah hari Ibu mulanya bukanlah momen untuk mengungkapkan kasih sayang dan terimakasih pada orang yang telah melahirkan kita seperti yang kita ketahui saat ini.

Namun Hari Ibu berawal dari ungkapan berkabung untuk para perempuan yang ditinggalkan oleh suami di medan perang.


Dilansir Grid.ID dari Kompas, Anna Jarvis adalah orang pertama yang mempopulerkan Hari Ibu di seluruh dunia.

Pada tahun 1850an, Anna dengan organisasi Ann Reeves Jarvis menggelar acara Hari Ibu dengan mendirikan kelompok kerja.

Kelompok ini mengemban misi untuk memperbaiki sanitasi dan menekan angka kematian bayi dengan cara melawan penyakit dan mengurangi pencemaran susu.

Tak hanya berkutat dengan misi tersebut, kelompok ini juga merawat para tentara dari kedua pihak yang terluka dalam perang saudara di AS tahun 1861-1865.

Tak berhenti disini, setelah perang usai Anna Jarvis juga membuat strategi untuk menyatukan pihak yang bertikai.

Ia menggelar piknik Hari Persahabatan Ibu dan acara lainnya.

Seorang komposer wanita bernama Julia Ward Howe juga menerbitkan sebuah teks Proklamasi Hari Ibu (1870).

Isi proklamasi tersebut adalah meminta wanita untuk mengambil peran politik aktif dalam mempromosikan perdamaian.

Di saat yang bersamaan, Anna Jarvis menyelenggarakan Hari Persahabatan Ibu untuk semua orang di negaranya.

Anna Jarvis sendiri tidak pernah memiliki seorang anak.

Baca Juga : Lomba Menulis Surat di Hari Ibu Jadi Asal Mula Munculnya Peringatan Hari Ayah Nasional di Indonesia

Namun ia terinspirasi untuk membuat Hari Ibu ini dari kematian ibunya pada tahun 1905.


Seluruh keluarga berkumpul untuk acara Jarvis's Hometown of Grafton di sebuah gereja yang sekarang bernama Mother's Day Shrine atau Kuil Hari Ibu di Virginia Barat (10/5/1908).

Selain di Virginia, Kuil Hari Ibu ini juga didirikan di Philadelphia, tempat tinggal Jarvis saat itu, serta di beberapa kota lainnya.

Dari sinilah Hari Ibu mulai populer dan merambah ke berbagai kota di seluruh negara bagian AS.


Hal ini rupanya didukung oleh pemerintah AS saat itu dengan diresmikannya Hari Ibu oleh Presiden Woodrow Wilson yang jatuh pada hari minggu kedua di bulan Mei dan ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Menurut Antolini, penulis buku Memorializing Motherhood: Anna Jarvis and the Defense of Her Mother's Day, Hari Ibu bukan untuk merayakan semua ibu namun untuk merayakan ibu terbaik yang pernah kamu kenal, ibumu sendiri.

Menurut Anna Jarvis, momen Hari Ibu ini disalahgunakan dengan timbulnya tambang emas komersil seperti penjualan bunga, permen dan kartu ucapan.

Hal ini menimbulkan amarah Jarvis yang kemudian memboikot dan mengancam tuntutan hukum serta memprotes ibu negara Eleanor Roosevelt yang menggunakan Hari Ibu untuk mengumpulkan dana amal.

Anna Jarvis kemudian kembali menentang organisasi The American War Mothers yang memakai Hari Ibu untuk penggalangan dana dan menjual anyelir hingga ia ditangkap karena dianggap mengganggu.


Perjuangan serupa terus berlanjut untuk menghentikan hal-hal yang dianggap Anna Jarvis mengambil keuntungan dari Hari Ibu sampai tahun 1940an.

Setelah perjuangan hingga titik penghabisan hidupnya, Anna Jarvis meninggal dunia dengan kondisi memprihatinkan.

Ia meninggal di sebuah sanatorium dalam keadaan demensia tanpa uang sepeserpun.

Padahal jika mau Anna Jarvis bisa mendapatkan keuntungan dari Hari Ibu yang ia populerkan.

Hari Ibu yang dipopulerkan oleh Anna Jarvis akhirnya menyebar ke seluruh dunia.

Setiap negara memiliki tanggalnya sendiri dan cara masing-masing yang berbeda.

Di Jasirah Arab, Hari Ibu dirayakan pada tanggal 21 Maret yaitu bertepatan dengan awal musim semi.

Di Panama, Hari Ibu dirayakan pada tanggal 8 Desember.


Di Thailand, Hari Ibu diperingati pada tanggal 12 Agustus yang bertepatan dengan ulang tahun Ratu Sirikit.

Sementara di Inggris, Hari Ibu dirayakan pada hari minggu keempat pada masa Prapaskah.

Seperti telah kita ketahui, Indonesia merayakan hari Ibu setiap tanggal 22 Desember.

Dilansir Grid.ID dari Banjarmasin Post, tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang hari-hari Nasional yang bukan hari libur.

Tanggal ini ditetapkan berdasarkan Kongres Perempuan Indonesia pertama pada tahun 1928.

Dalam kongres ini, perempuan-perempuan dari 30 organisasi di Jawa dan Sumatera berkumpul untuk menyatukan pikiran dan semangat memperjuangkan kemerdekaan.

Selain itu, mereka juga mengemban misi perbaikan nasib kaum perempuan.

Antara lain isu peran perempuan dalam pembangunan bangsa, menghentikan perdagangan anak dan perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan ibu dan balita hingga pengurangan pernikahan usia dini.


Kemudian mereka juga sepakat mengirimkan mosi untuk pemerintah kolonial untuk menambah sekolah bagi anak perempuan.

Kongres Perempuan Indonesia itu saat ini berubah nama menjadi Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Menilik sejarah Hari Ibu di Indonesia, peringatan ini lebih kepada penghargaan pada perjuangan seluruh wanita Indonesia. (*)

[grid.id]

0 Response to "Hari Ibu 2018: Ada Kisah Menyedihkan di Balik Sejarah Hari Ibu yang Kita Rayakan Sekarang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2